RuangOto.com – Hari gini masih nyasar ? Pakai GPS dong. Perangkat navigasi yang dua dekade silam hanya digunakan kalangan tertentu seperti militer dan dunia penerbangan ini sekarang dapat dinikmati oleh orang awam dengan mudah dan murah.

Tinggal buka aplikasi Google Map, Waze, Sygic di ponsel pintar, Anda bisa menemukan lokasi ATM terdekat, perkiraan jarak dan waktu tempuh, hingga informasi kepadatan lalu lintas. Penggunanya juga tidak ambil pusing berapa banyak satelit maupun menara BTS yang bekerja untuk menentukan koordinat. Praktis kehidupan manusia di abad ini tidak terlepaskan dari Global Potitioning System. Tapi tahukah Anda bahwa konsep perangkat GPS sebetulnya sudah ada lebih dari seabad silam ?

Amerika di awal abad ke-20 mulai dilanda demam bermobil, ditandai dengan Ford Model T di tahun 1908 yang menjadi mobil terlaris pertama di dunia. Banyak orang yang sebelumnya menggunakan kereta api untuk perjalanan antar kota sejauh ratusan kilometer beralih ke mobil pribadi.

Namun revolusi ini belum dibarengi perubahan infrastruktur jalan yang masih bertahan di era kereta kuda. Jalan raya masih didominasi jalan tanah yang buruk dan minim rambu penunjuk jalan. Tidak mungkin mengandalkan bintang untuk bernavigasi saat bertemu perempatan. Peta jalan masih membantu tapi merepotkan saat dibentangkan. Bertanya dengan orang yang ditemui di jalan menjadi solusi populer. Mungkin di era inilah lahir pepatah malu bertanya sesat di jalan.

Bisa jadi karena lelah selalu bertanya dan tidak selalu akurat petunjuk yang diberikan, seorang insinyur bernama J.W. Jones pada tahun 1909 menciptakan instrumen navigasi otomatis yang dinamai Jones Live Map (JLM).
JLM terdiri dari piringan seluloid yang dipasang di piringan logam. Peranti ini dilengkapi dengan kabel yang terhubung dengan odometer mobil. Piringan seluloid itu berisi petunjuk navigasi seperti “Ambil arah ke Central Park”, “Belok kiri di Shore Road”, “Ambil kanan setelah tiang bendera”. Petunjuk ini mirip dengan navigasi tulip pada roadbook dalam reli.

Panah di piringan ini akan menunjukkan informasi spesifik yang akan berganti pada interval jarak tertentu. Setiap menempuh jarak 100 km, pengemudi harus berhenti untuk mengganti piringan navigasi dengan seri berikutnya.

“Peta hidup” ini disusun dengan bantuan The Touring Club of America atau jika di tanah air mirip dengan Ikatan Motor Indonesia. Hingga tahun 1919, peta Jones telah mencakup 500 rute yang terbentang dari New York hingga Los Angeles.

Perangkat seharga US$75 (konon setara US$2.000 pada masa sekarang) ini tidak hanya menjual fungsi tetapi juga mendongkrak gengsi pemiliknya. Dengan piringan logam yang menyilaukan di dekat setir dan tas kulit mewah untuk menyimpan piringan peta, efek kerennya mungkin seperti saat Mas Boy menggunakan telepon mobil berwarna oranye dari dalam BMW 318i E30 di tahun 1987.

Sistem navigasi Jones ini mulai dilupakan ketika informasi yang tercetak tidak lagi aktual dengan banyaknya perubahan di jalur yang dilewati. Patokan yang diberikan tidak lagi sesuai ketika tiang bendera di tepi jalan sudah tidak ada atau sebuah lumbung telah berganti warna cat.

Selain Jones Live Map, ada konsep yang lebih canggih rancangan George E. Boyden di tahun 1916. Konsep yang dinamai Vehicle Signaling System ini jauh lebih canggih dan menjadi nenek moyang navigasi suara.

Boyden memasang fonograf yang terhubung dengan roda. Begitu kendaraan berjalan dan mencapai interval jarak tertentu, rekaman suara akan terdengar dari corong pengeras suara untuk memberikan panduan ke arah mana pengemudi harus bergerak. Sayangnya konsep yang mendahului zamannya ini tidak pernah diproduksi meskipun Boyden telah mematenkannya.
Konsep GPS Boyden menjadi kenyataan 55 tahun kemudian. Dalam acara televisi Inggris Tomorrow’s World di tahun 1971 ditayangkan sistem navigasi eksperimental menggunakan kaset yang dipasang pada sebuah Volkswagen Beetle ’62. (Anton Musthafa)

Tinggalkan Balasan