RuangOto.com – Walaupun masa pademi covid-19 masih ada sampai sekarang, segenap wartawan otomotif dan perindustrian menggelar Webinar Diskusi VIRTUAL Industri Otomotif dengan tema  membahas “Peluang dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia”.
Sebagaimana pun narasumbernya para ahli di dunia otomotif adalah Dr. Hari Setiapraja, ST, Meng. Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Dr. Ir. Riyanto, MSi. Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dengan memapar makalah nya.

Di awali oleh Dr. Hari Setiapraja, ST, MEng. Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memaparkan,” Sebagaimana peluang dan tantangan kendaraan listrik di Indonesia sebagai berikut :
1. Menuju Era kendaraan baru.
2. Menuju Zero Emision
3. Konsumsi Energi kendaraan listrik
4. Konsumsi dan jarak tempuh kendaraan listrik
5. Tantangan dan peluang implementasi :
a. Kendaraan listrik.
b. Suplai listrik dan kondisi jalan raya
c. Mapping
e. Bencana Alam (Banjir)
f. Limbah Baterai
g. Pengembangan Komponen.”

Sedangkan, Dr. Ir. Riyanto, MSi. Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mamparkan,” Peluang dan Tantangan Pengembangan
Pasar Kendaraan Listrik di Indonesia seperti ;
a. Mengapa Kendaraan Listrik
b. BBM sebagai sektor transportasi
c. Regulasi
d. Kebijakan strategis pemerintah dalam program BEV
e. Beberapa hambatan perkecepatan penggunaan baterai elektrik kendaraan di Indonesia
f. Analisis pasar.

Setelah kedua nara sumber memaparkan makalahnya. Maka pembawa acara langsung membuka Q n A buat para wartawan.

Dimulai dari  Insan – mobil123 :
Q : Terkait soal infrastrukturnya. Berdasarkan studi mobil listrik dari negara maju infrastruktur pengecasan paling penting.  Sebenarnya perjarak berapa harus ada.

Pertanyaan kedua : Kitakan kondisinya beda, macet beda, tanjakan dimana-mana. Apa rekomendasi BPTT?

Pertanyaan ketiga : Soal pasar, untuk insentif agar harga lebih sesuai ada rekomendasi seperti baterai, untuk insentif lain seperti leasing gimana, apa sudah mencukupi, karena penting untuk pasar indonesia?

Dijawab oleh Hari :
A : Sampai saat ini saya belum menemukan literatur yang ideal, inilah ideal  penempatan infrastruktur yang ideal karena kami di BPPT mengkaji bagaimana penempatan stasiun charger karena ini menyangkut pola arus lalu lintas volume  yang akan disambungkan dengan konsumsi baterai atau energi saat ini, sehingga  bicara ideal seperti apa harus ada kajian yang ditel  sesuai dengan pola lalu lintas kota yang akan menerapkan kendaraan listrik ini.  karena yang saya pahami belum ada yang fix  karena ujung-ujungnya kalau ada banyak stasiuyn pengisian  gak efektif juga ke depannya.

Selanjutnya, ada berapa pertanyaan lagi, buat Riyanto dari Dian – Liputan6 :
Q : Kalau roda dua listrik  lebih muda  penetrasinya kalau untuk roda empat  perlu step by step dulu nggak?

Stimulus apa  yang tepat untuk plug in hybrid seperti pajak , kira2 kisaran berapa yang buat orang mau beli?

Mobil listrik itu siap kapan,  targetnya kapan?

A : Riyanto : Step by step atau  loncat ke PHEV. Jadi ada dua Mazhab. Kalau Cina itu pengen loncat langsung. Gak dari Hybrid langsung ke mobil listrik.  Kalu di kita ada dua arus ada yang pengen  ke PHEV langsung dan ada yang pakai hybrid kan itu masih ada emisi.

Kalau daya jangkaunya di hybrid dan penerimaan ekosistemnya bisa diterima kan emisi bisa tereduksi cepat dengan menerapkan hybrid. Kalau baterainya lama juga gak ada marketnya  dan marketnya kecil sebenarnya reduksi Co2 nya juga gak jadi banyak.  Kalau dari step by stepnya.

Jadi ada dua arus yang  masih ada tapi keputusan dari pemerintah kalau  kita lihat regulasi perpres pergub kemendagri itu insntifnya semua diberikan  pada baterai, kendaraan bermotor  berbasis baterai. Jadi masih ke sana Hibrid sama plug in insentifnya hanya PPNBM. Jadi pemerintah mau loncat sebenarnya. Kalau kita lihat hanya PPNBM  hybrid sebenarnya sudah kompetitif.  kelihatan hybrid akan berkembang juga, Untuk plug in hybrid  memang naggung. Plug in itu  kalau ekosistemnya lengkap dan kau ada dimana2 orang nanggung kalau pakai hybrid  karena pakai dua engine. Kalau nanti SPKLUnya ada dimana-mana gak perlunya saya pakai plug in.  ada engine sama baterainya. Lama plug in ini tidak berkembang mungkin hanya perantara  untuk mencapai reduksi emisi yang lebih cepat  simulasi di UI, ITB  dan UNS misalnya  atau universitas di Bali itu mmelakukan simulasi ternyata emisi plug in hyblrid juka dipakai di kota itu sudah mirip full  baterai. Kalau dalam kotakan yang  pembakarnya nggak berfungsi cuman di UI  itu mengisi BBM selama simulasi  itu BBM nya kepakai kecil banget, karena jarak tempuhnya pendek.  Jadi semuanya digerakan baterai.

Jadi pemerintah nampaknya loncat karena langsung ke  ke PHEV tapi manufakturnya  menunggu ekosistemnya belum siap, nanti kalau  diproduksi disini nanti investasinya bagaimana  jadi sekarang wait and see. Mereka menunggu biar regulasinya bergerak tetapi lebih aman menreka mengembangkan pada ekositem yang semuanya ada. hibrid ada, plug in hybrid ada, kemudian PHEV ada. Kalau dalam waktu ini, mungkin plih hybrid, plug in hybrid. Tapi dalam jangka panjang  dia bisa pindah langsung ke PHEV.

Untuk plug in hybrid berapa? kalau kita lihat  dan bandingkan kendaraan manual selisihnya harganya. Teknologi baru akan diterima kalau harganya tidak terlalu jauh. Jadi dia akan menghitung itu. Jadi kalau untuk PHEV supaya dia menarik available buat konsumen set aja  10 persen diatas ICE.. Nah  tapi itu butuh subsidi besar

Kemudian kapan?  di Permen perin  no 27  tahun 2020, kita punya  road map misalnya mulai memproduksi baterai kapan? Sebenarnya dalam jangka pendek sekarang pasarnya  sudah ada tapi sampai saat ini produksi murni  akhirnya diproduksi di Indonesia,  sekarang kan targetnya sampai 2023,  40 pesen  kandungan lokal dan harus ada di Indonesia. Sehingga ada nilai tambah untuk komponen indonesia. paling nggak perakitan.

Nah, ini paling tidak ini akan mensuplay Goverment feed dan  armada pemerintah. Ini jumlahnya cukup besar.  armadanya cukup besar terutama untuk sepeda motor.  Kalau untik motor produsennya sudah banyak ada Viar, Gesit . 

Sebenarnya sudah untuk memenuhi  kebutuhan pemerintah bisa tapi yang perlu didorong juga Gojek, Taksi Bluebird, taksi yang lain.  kalau bisa armadanya dikonvesrsi segera.

Sekarangkan dibolehkan impor  dengan persyaratan mereka yang impor disarankan akan membangun manufaktur di Indonesia  seperti di perpres 55 kemudian perkemenperin, TKDN itu  road mapnya awal kita gak punya harus impor. Tapi ke depan mungkin seperti Hyundai punya manufaktur  di Indonesia. kemudian bisa memenuhi lokal konten. Untuk hyundai sebenanrnya mereka udah siap yang lain sekarang juga sementara ancang-ancang.

Sepeda motor listrik sudah ada 15 perusahaan (Data kemenperin) artinya  paling realistis sepeda motor, karena bisa cash di rumah. Kalau sudah ada hybrid, plug in hybrid dan seterusnya mana paling disarankan terkait mengurangi emisi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *