RuangOto.com – Dalam transisi pembatasan sosial berskala besar akan dapat menghidupkan kembali industri otomotif khususnya. Beberapa hari yang lalu, Forwin (Forum Wartawan Industri) dan Forwot (Forum Wartawan Otomotif) telah melaksanakan webinar diskusi virtual industri otomotif bersama Kemenprin, Gaikindo dan INDEF.

“Kalau lihat dari sisi produksi mobil hampir meningkat dibandingkan dengan kuartal kedua, jadi cukup menggembirakan kalau lihat dari kuartal 2 dibanding kuartal 3 tumbuh 172 persen dari sisi produksinya. Jadi dari angka 113.560 produksi itu naik 172 persen dibanding kuartal sebelumnya,” jelas Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian.

Begitu Covid-19, penjualan pun drop tentunya dan berdampak pada elemen lain juga, maka diupayakan agar industri tetap berjalan. Apabila industrinya sampai berhenti nanti ekspor dari Indonesia yang ke 80 negara akan diambil oleh negara lain. Makanya, pemerintah waktu itu mengeluarkan IOMKI.

Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) itu sangat mendukung dari proses produksi, walaupun di dalam negeri turun tapi di ekspor masih ada harapan tumbuh sehinga pasar-pasar yang dimiliki Indonesia tidak diambil oleh negara lain.

Sedangkan, dari kacamata Gaikindo industri produksi mobil menduduki peringkat ke 13 terkalahkan oleh negara-negara lain. Dari Asean, kalah dari Thailand karena Thailand mampu memproduksi mobil jauh lebih banyak hampir 2 kali lipat dari Indonesia.

“Domestik market di tahun 2019 menduduki peringkat ke 15 dari Thailand di peringkat 16. Nah ini, Thailand sudah mendekati di domestik marketnya masuk di 1 juta. Semetara Indonesia sudah 1 juta namun setelah beberapa tahun kisarannya 1,100 juta, 1,130 juta dan sebagainya, itu yang diharapkan untuk ditingkatkan. Namun sayangnya di 2020 datang pandemi covid-19,” ungkap Kukuh Kumara, Sekretaris Umum GAIKINDO.

Esther Sri Astuti, Direktur Program INDEF mengatakan,” Dampak covid-19 ini mempunyai dampak buruk terhadap perekonimian Indonesia, terjadi resesi, pertumbuhan ekonomi kuartal 2 dan 3 sampai sekarang pun masih negatif, sehingga hal ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi negara lain. Bahwa hampir semua negara pertumbuhannya negatif karena pandemi.”

Memang dampak pandemi ini lebih parah dari pada krisis moneter yang terjadi pada 1997 dan 2008, dengan adanya covid ini manyarakat memilih tinggal di rumah karena takut terinfeksi virus. Adanya keterbatasan mobilitas ini berakibat pada suplai dan deman di perekonomian.

Disektor industri mobil juga mengalami penurunan dan sisi lain dari sektor konsumsi karena ada penurunan daya beli, akibatnya konsumsi menurun maka tak heran pertumbuhan ekonomi negatif.

“Apa yang harus kita lakukan kalau pandemi ini tidak kunjung berakhir? Kita harus melakukan adaptasi kebijakan-kebijakan strategi perusahaan harus diarahkan untuk beradaptasi dengan kondisi pandemi,” ungkap Esther Sri Astuti, Direktur Program INDEF lagi.

Selain, Survey Jetro menyebutkan setelah adanya penurunan  produksi, pertama invertary adjustmen dan kedua memperbaiki tingkat operating ratenya. Jadi bagaimana melakukan efisiensi dalam segala kegiatan operasionalnya. 

Butuh intervensi dari pemerintah, maka keadaannya akan membaik, tetapi kalau tidak ada sudah pasti akan tetap tinggi dan ekonomi makin terpuruk maka peran pemerintah sangat diperlukan.

Upayanya, salah satu bentuk lewat Tax, itu bisa mengkoreksi pasar. Menghadapi pandemi kita ngak bisa sprint, pandemi ini kita hadapi dengan mengatur napas untuk lari marathon tambah Esther.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *